Kreatif Sampai Mati: Provokasi Massal Lewat Buku

Cover buku “Sila Ke-6: Kreatif Sampai Mati”. (Foto dikutip dari kdri.web.id)

Judul                       :  Sila Ke-6: Kreatif Sampai Mati

Karya                      :  Wahyu Aditya

Cetakan Pertama    :  Januari 2013

Penerbit                  :  PT Bentang Pustaka

Halaman                 :  xviii + 297 halaman; 20,8 cm.

 

 

Kreativitas itu mengikuti hukum energi, tak bisa habis, juga jika dihambat”

-Goenawan Mohamad-

Wahyu Aditya mungkin kawan sekalian jarang mendengar anak muda kelahiran Malang ini, tapi kalau mendengar Hellofest (festival Pop Culture terbesar di Indonesia dengan pengunjung lebih dari 20.000 orang dalam satu hari) tidak mungkin tidak. Wadit (panggilan akrab Wahyu Aditya) berada di belakang itu semua. Dalam dunia desain dan animasi Indonesia, Wadit dikenal sebagai aktivis dan pembicara industri kreatif. Karya-karyanya menghiasi berbagai gerakan terutama logo yang dipakai dalam Koin Peduli Prita pada 2009 dan provokasinya ingin membentuk Kementrian Desain Republik Indonesia.

Kreatif Sampai Mati yang ditulis oleh Wadit merupakan prinsip hidup, kumpulan cerita, dan perspektifnya mengenai kehidupan kreatif. Dalam bab buku tersebut disajikan manual atau semacam tutorial untuk menjadi kreatif. Dibagi menjadi beberapa bagian yang merupakan langkah- langkah praktis menumbuhkan kreativitas pada seseorang.

Dimulai dari perspektif dan pandangannya tentang pendidikan yang mengesampingkan pelajaran seni. Pelajaran seni dan jam kosong merupakan jam yang membuatnya lepas dari sentuhan pelajaran ilmu pasti. Yang menurutnya membunuh dan mengesampingkan manusia mencapai kemanusiannya, lewat jiwa cipta, rasa dan karsa. Pengalaman dan pertemuannya dengan banyak orang tak luput diceritakan, misalnya dalam “banyak jalan menemukan passion”. Dia melihat kesungguhan muridnya di Hellomotion (akademi animasi yang didirikannya pada tahun 2004), Firman Widyasmara, seorang pegawai bank, yang akhirnya terjun mengikuti hasratnya menjadi seorang animator berprestasi.

Dalam bukunya, Wadit memberikan 17 langkah dan provokasi, diantaranya: rangkul keterbatasan, think out the box?, lakukan dengan hal spontan, tetap gembol selalu, hadapi otak kadal, dan lain- lain. Wadit menyebut langkah-langkah ini merupakan butir-butir pengamalan seperti pengamalan terhadap Pancasila. Bahkan ia menyebut bukunya sebagai buku petunjuk pengamalan kreativitas bagi rakyat.

Hal tersebut menunjukkan begitu pentingnya kreativitas dalam kehidupan masyarakat. Desain menunjukkan keinginan untuk membuat wajah Indonesia lebih berwarna dan segar. Wadit mencontohkan apa yang dilakukan Negeri Sakura dan Negeri Ratu Elizabeth dalam menciptakan lingkungan yang kreatif dan menarik. Melalui bisnis kreatif dan desain keduanya mampu menciptakan pendapatan ekonomi yang cukup besar. Sampai kartun dari Jepang dan logo perusahaan kereta api di Inggris (Underground) mampu memberikan sumbangsih terhadap pariwisata kedua negara.

Ia mendorong Indonesia juga tidak kalah start untuk menciptakan wajah baru bagi Indonesia melalui desain. Melalui sosial media bersama Gembolers (ikon ciptaannya yang didaulat sebagai menteri sekaligus kurir di Kementerian desain). Ia menyebarkan kecintaan akan Indonesia melalui remix terhadap tokoh khas Indonesia seperti Gatotkaca, makanan khas seperti onde–onde, dan tarian.

Foto: dikutip dari suaraekonomi.com

Buku dengan gambar dan ilustrasi memberikan pengalaman yang menarik bagi pembaca. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk “melahap” buku racikan ala Wadit. Setiap halamannya dihiasi panjelasan melalui gambar menarik dan lucu. Ini memperkuat penetrasi provokasi untuk membangun masyarakat Indonesia yang kreatif dan produktif. Kreatif sampai mati. (Eka Mulyawan)

Satu tanggapan untuk “Kreatif Sampai Mati: Provokasi Massal Lewat Buku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *