Pemuda dalam Kobaran Api

Ketika aku terbangun, tertanggal 25 Maret 2016. Sebentar lagi bulan Maret akan berakhir, aku teringat akan suatu peristiwa tentang pembumihangusan suatu wilayah di Indonesia. Terjadi sekitar 70 tahun yang lalu pada 24 Maret 1946. Aku memang belum lahir kala itu, tapi dengan membaca sejarah, setidaknya aku sedikit bisa tahu. Peristiwa yang banyak berkisah tentang perjuangan dan pengorbanan yang dikenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Dalam hitungan Maret peristiwa itu baru saja lewat sehari. Namun aku teringat oleh sosok pemuda yang gagah berani tak pernah lelah tak kenal kata menyerah dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia adalah Muhammad Toha seorang pemuda dari Bandung Selatan, pejuang dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Lalu aku mencoba mengkomparasikan dengan pemuda sekarang. Sungguh malu dan tak terbanding, kami terlihat cupu, ia begitu gagah, kami terlihat begitu pengecut yang suka minum susu dan ia bermentalkan baja yang tak pantang arah. Muhmmad Toha semangat api dalam kobaran api.

Mohammad Toha lahir di jalan Banceuy, Desa Suniaraja Bandung pada tahun 1927. Ayahnya bernama Suganda dan ibunya bernama Nariah. Setelah Indonesia merdeka, Toha bergabung dengan Barisan Rakyat Indonesia (BRI) yang kemudian digabungkan dengan Barisan Pelopor, yang akhirnya menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam kesatuan ini Toha diangkat sebagai komandan seksi I bagian penggempur. Toha digambarkan memiliki kecerdasan, patuh kepada orang tua, bermuka lonjong dengan pancaran mata yang tajam, pemuda yang dikenal pemberani dan suka menolong.

Tahun 1942, saat perang Dunia ke II pecah, Jepang dengan mudah meduduki Hindia-Belanda. Bandung menjadi kota pertahanan Belanda yang terkahir, sebelum akhirnya menyerah pada 8 Maret 1942 di Kalijati. Jepang tidak bertahan lama di Indonesia, 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Mendengar tentang penyerahan Jepang, pemuda dan pejuang Indonesia memanfaatkan hal itu dan kemudian memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Walaupun sudah memproklamirkan kemerdekaan, sekutu dengan memboncengi Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) datang kembali ke Indonesia. Mereka bertujuan untuk melucuti senjata Jepang dan memulangkan para tentara Jepang ke daerah asalnya dan Inggris meminta agar pemerintah Belanda bersama Indonesia dapat mengurus Indonesia. Namun para pemuda mengetahui niat Belanda datang kembali ke Indonesia yaitu untuk berusaha menguasai kembali wilayah Indonesia.

Pada 26 November 1945, Inggris mengeluarkan ultimatum agar warga Bandung mengosongkan Bandung bagian utara. Alasannya, agar tidak terjadi bentrok antara warga sipil dengan militer sekutu yang ingin melucuti senjata Jepang. Akhirnya Bandung di pecah menjadi dua wilayah, Bandung selatan ditempati warga pribumi dan Bandung utara ditempati orang Eropa dengan batas pemisah rel kereta api yang membentang di tengahnya. Pada tanggal 20 Desember 1945, Inggris kembali mengultimatum dengan memerintahkan bahwa militer dan pejuang Indonesia harus mundur dan meningalkan kota Bandung sekitar 11 km. Kemudian komandan Divisi III A.H Nasution mengumumkan untuk membakar kota Bandung, membumihaguskannya agar sekutu dan tentara Belanda tidak dapat memanfatkan Bandung sebagai markas militer. Akhirnya pada 24 Maret 1946, tentara, pemuda bersama sekitar 200.000 warga mengungsi dari kota Bandung dengan meningalkan kobaran api dan asap yang membumbung tinggi.

Pada saat itu, Dayeuhkholot dijadikan sebagai basis serdadu Belanda untuk menyerang pejuang Indonesia. Di sana terdapat sebuah gudang yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, messiu, dan perlengkapan militer lainnya sejak masa pemerintahan Jepang. Kondisi itu membangkitkan amarah M. Toha untuk mengahancurkan gudang senjata tersebut. Namun atasannya tidak menyetujuinya. Tanggal 9 Juli 1946, Toha bersama pasukannya mendapat perintah untuk terjun ke medan perang dengan tugas sebagai penyidik. Keberangkatan mereka disertai dengan pasukan Hizbullah yang dipimpin oleh Muhammad Ramdan dan pasukan Papak. Belum jauh mereka berjalan musuh dengan cepat menyerang mereka dengan granat. Mengetahui M. Toha dan M. Ramdan tidak kembali ke induk pasukannya, maka komandan Rivai memerintahkan agar komandan seksi S Abbas mengadakan serangan pengacauan ke kubu Belanda dari arah lain. Hal tersebut untuk mengalihkan perhatian musuh dan membuka jalan bagi Toha dan Ramdan untuk meledakkan gudang messiu.

Keesokan harinya, pada 10 Juli 1946, terdengarlah ledakan dahsyat yang mengagetkan penduduk sekitar Bandung. Suara ledakan itu terdengar hingga luar kota Bandung. Dalam laporan yang dibuat oleh Markas Daerah Barisan Benteng Priayangan bahwa M. Toha dan M. Ramdan turut gugur dalam ledakan itu. Bekas ledakan itu menyisahkan lubang yang cukup dalam. M. Toha dan Ramdan ikut terbakar dalam kobaran api yang membakar gedung. Namun nyawa sudah tak mereka perdulikan untuk cita-cita negara mencapai kemerdekaan.

Untuk mengenang peristiwa ledakan itu, maka dibangunlah tugu monumen di bekas gudang senjata yang telah terbakar dengan nama monumen Dayeuhkolot dan patung Moh Toha. Untuk mengenang jasa M. Toha dan M. Ramdan nama mereka diabadikan mejadi nama sebuah jalan yang menghubungkan Dayeuhkolot dan Bandung. Jalan itu bernama Jl. Moh Toha dan Muh.Ramdan.

Menengok ke sejarah pada waktu itu, Toha masih berusia 19 tahun. Sosok pemuda yang gagah berani, rela mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan bangsanya. Toha dan Ramdan tak mempedulikan seberapa besar resiko terhadap dirinya, untuk kedaulatan negerinya, nyawanya pun dipertaruhkan. Meski M. Toha belum ditetapkan sebagai pahlawan Nasional, tapi ia tetap dikenal sebagai pahlawan dari Bandung Selatan. Ini bukan berkisah tentang perjuangan melainkan pengorbanan, dua sosok pemuda berani mati dalam mempertahankan kemerdekaan.

Sekarang kita para pemuda tak perlu lagi mengangkat senjata. Perjuangan kita sudah tidak sama dengan Ramdan ataupun Toha. Mereka adalah pemuda jaman dahulu yang hidup dalam penjajahan. Sungguh tak pantas jika Toha dibandingkan dengan pemuda zaman sekarang. Keberanian Toha yang patut ditiru, pemuda yang begitu mencintai tanah airnya Indonesia. Rela mengorbankan nyawa untuk kedaulatan Indonesia Raya. Terkutuklah bagi orang yang menggapnya hanya sebagai legenda ataupun dongeng pengantar tidur.

Namun apa yang bisa kami lakukan sebagai pemuda hanyalah apa yang diwajibkan kepada para pemuda. Kami para pemuda hanya bisa melakukan apa yang pemuda biasa bisa lakukan, pemuda yang sejarawan meniliti sejarah dan terus mengkajinya. Pemuda yang masih pelajar, belajarlah sebaik-baiknya. Pemuda yang menjadi arkeolog, menggalilah dengan serius, temukan artefak sebanyak-banyaknya. Pemuda yang menjadi dokter, rawatlah pasien sebaik-baiknya. Pemuda yang sudah bekerja, bekerjalah sebaik-baiknya. Biarkanlah pejuang tetap menjadi pejuang, biarkanlah pahlawan tetap menjadi pahlawan. Biarkanlah malaikat tetap menjadi malaikat, biarkanlah iblis tetap menjadi iblis. Biarkanlah pemuda tetap menjadi pemuda, kita mempunyai tugas masing-masing. Jadi silahkan kerjakan tugasmu!.( Akhmad Khoirul M )

You May Also Like