Aksi “One Man, One Candle”, Solidaritas Udayana untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Dunia sepak bola kini tengah berduka atas peristiwa kelam yang terjadi pada Sabtu (1/10) di Stadion Kanjuruhan, Malang. Kerusuhan yang terjadi usai pertandingan antara Arema Malang kontra Persebaya Surabaya menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan luka-luka. Banyak pihak yang menyesalkan kejadian tersebut, termasuk kalangan mahasiswa Unud. Rabu malam (5/10), mereka berkumpul di Ruang Terbuka Hijau Universitas Udayana untuk melakukan aksi doa bersama bertajuk “One Man, One Candle” sebagai bentuk solidaritas.

 

Tragedi bermula sesaat setelah Persebaya memastikan kemenangan atas tuan rumah Arema dengan skor 2-3. Tak berselang lama, beberapa oknum suporter Arema tampak melompati pagar tribune penonton dan memasuki area lapangan. Aparat keamanan pun bergerak menghalau para suporter yang berlari menuju bangku pemain cadangan dan berusaha memukul mundur mereka untuk kembali ke tribune.

Situasi yang semakin tidak kondusif membuat aparat keamanan menembakkan gas air mata ke arah tribune penonton. Suporter yang masih memenuhi tribune berhamburan menyelamatkan diri. Ada beberapa yang kembali melompat ke dalam area lapangan, tetapi tidak sedikit yang memaksakan diri untuk keluar melalui pintu tribune. Beberapa pihak berpendapat bahwa banyaknya korban jiwa dikarenakan terhimpit dan terinjak-injak saat berusaha keluar melalui pintu tribune yang sempit.

Peristiwa ini telah memikat perhatian banyak pihak melalui ucapan bela sungkawa yang disampaikan. Tidak hanya dari dalam negeri saja, peristiwa ini pun telah mencuri perhatian dunia, termasuk FIFA sebagai pucuk federasi sepak bola global.

Berbagai kelompok suporter sepak bola dari pelbagai daerah telah melangsungkan aksi doa bersama untuk para korban. Kalangan mahasiswa Unud pun menggelar aksi “One Man, One Candle” sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban. Aksi ini dilancarkan di Ruang Terbuka Hijau Universitas Udayana pada Rabu malam (5/10). 

Aksi – Aksi “One man, One candle” mahasiswa Unud di Ruang Terbuka Hijau Universitas Udayana pada Rabu malam (5/10).

Mahasiswa Unud dari berbagai kalangan turut serta dalam aksi ini. Sejak pukul 19.10 WITA, massa aksi sudah berada di lokasi dengan berpakaian hitam serta membawa lilin. Aksi dimulai pukul 19.30 WITA dengan pengantar oleh Darryl selaku perwakilan mahasiswa Unud. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan beberapa peserta lain yang turut mengungkapkan isi hatinya mengenai tragedi Kanjuruhan dengan diiringi lagu-lagu yang biasa dinyanyikan dalam pertandingan Arema Malang.

Darryl mengungkapan penolakannya terhadap tindakan represif yang dilakukan oleh aparat keamanan, terlebih kepada para suporter sepak bola di dalam stadion. “Jelas kami menolak segala bentuk tindak represif aparat terhadap masyarakat sipil, bahkan kepada mereka yang hari ini hanya ingin hadir untuk menonton sepak bola bersama dengan keluarganya di malam minggu, tapi justru mendapatkan perlawanan yang begitu tajam,” ujarnya.

Tragedi – Akbar, salah satu peserta aksi dari Fakultas Pertanian sekaligus bagian dari Aremania Banyuwangi mengungkapkan isi hatinya mengenai tragedi Kanjuruhan. 

Sementara itu, Akbar —mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) sekaligus bagian Aremania Banyuwangi— mengakui adanya kesalahan suporter yang masuk ke area lapangan untuk memberikan motivasi kepada para pemain Arema. “Ya mungkin suporter itu salah, akhirnya turun suporter dari tribune utara sama tribune selatan,” ungkap Akbar. Meski begitu, ia menyayangkan adanya korban jiwa atas peristiwa tersebut. “Meskipun mungkin jelek-jeleknya, mungkin resiko terburuknya suporter merusak peralatan yang ada di stadion. Ya setidaknya kan mungkin itu saja, tidak sampai korban berjatuhan kan? Tapi ini korban sudah banyak yang berjatuhan,” lanjutnya.

Tabur – Peserta aksi menaburkan bunga di atas jersei dan syal Arema Malang

Sebelum menutup aksi, peserta menaburkan bunga di atas jersei dan syal Arema Malang, dilanjutkan dengan menyalakan lilin dan memanjatkan doa bersama bagi para korban. Setelahnya, perwakilan peserta menerbangkan lampion sebagai simbol harapan mereka untuk dunia sepak bola yang lebih baik sekaligus memanjatkan doa bagi para korban.

Meski aksi ditutup sekitar pukul 20.30 WITA, banyak peserta aksi yang tidak langsung membubarkan diri. Sayang, aksi yang sejak awal berjalan damai dinodai dengan keributan yang dipicu upaya pengambilan spanduk oleh beberapa orang, meskipun akhirnya dihadang oleh Darryl. Tak lama usai keributan dilerai oleh peserta aksi yang lainnya, massa pun mulai membubarkan diri satu per satu.

Febri, mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP), menyayangkan adanya keributan antar peserta aksi. “Ini hal yang di luar dugaan, hal yang tidak diekspektasikan terjadi hal seperti itu,” ujarnya. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali agar aksi perjuangan solidaritas tidak kehilangan maknanya. 

Di balik duka terhadap para korban, ada harapan dari para peserta aksi mengenai kelanjutan proses hukum tragedi Kanjuruhan dan sepak bola Indonesia kedepannya. “Ketika nanti sudah diputuskan untuk bergulir kembali, gua dalam hal ini sangat-sangat mengharapkan tidak adanya kejadian seperti itu lagi,” pungkas Febri. Selain itu, ia juga berharap adanya perubahan menyeluruh dalam segala aspek persepakbolaan di Indonesia.

Sementara itu, Akbar mengharapkan tragedi Kanjuruhan kemarin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, terutama bagi para suporter sepak bola. “Mungkin untuk Arema, Aremania, sama suporter-suporter di Indonesia mungkin kejadian ini menjadi pemicu kita untuk mempererat persaudaraan,” tutup Akbar.

 

Penulis: Jaka

Penyunting: Michelle

You May Also Like