Membersamai Pergerakan Feminisme Lewat Diskusi Terbuka

Menjadi pergerakan konkrit untuk menciptakan siklus yang sehat di lingkungan Universitas Udayana, BEM PM Unud menyelenggarakan diskusi terbuka bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Diskusi yang berlangsung cukup lama juga disambut oleh banyak peserta untuk saling bertukar keresahan mengenai feminisme di lingkungan mereka termasuk Universitas Udayana.

Hari Perempuan Internasional yang diperingati pada 8 Maret 2023 diisi dengan sebuah diskusi publik oleh BEM PM Universitas Udayana (Unud) berkolaborasi dengan Sanggarpuan dan HopeHelp Unud. Kegiatan diskusi tersebut dimulai jam 16.30 WITA di ruang terbuka hijau Kampus Sudirman Universitas Udayana. Tak hanya berdiskusi, kegiatan ini juga disertai dengan mimbar bebas serta panggung ekspresi bagi peserta yang ingin berpendapat dan berekspresi.

Diskusi yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional ini mengusung tema khusus yaitu “Sentuh Perspektif : Perempuan dan Titik Hitam” yang juga diambil dari tema umum mengenai “Kemunculan Gerakan Feminisme Di Indonesia”. Tidak hanya dalam rangka memperingati, namun kegiatan diskusi terbuka ini juga dilakukan sebagai bentuk pergerakan yang konkret untuk menyebarkan keresahan kecil yang dirasakan oleh BEM PM Unud, beberapa mahasiswa, serta teman-teman feminis yang ada mengenai tuntutan hak perempuan yang masih belum sepenuhnya terpenuhi. Diskusi ini juga ke depannya diharapkan memperluas gaungan mereka serta dapat memenuhi hak perempuan, kesetaraan gender, meminimalisir tindak kekerasan seksual di Unud, sehingga kelak akan tercipta iklim yang sehat untuk seluruh civitas akademika.  Edukasi yang diberikan pun bukan sekadar formalitas diskusi belaka, melainkan juga dituangkan secara nyata melalui suara dari teman-teman Sanggarpuan , serta peserta lainnya yang hadir pada mimbar bebas sore hari itu.

Kerumunan – peserta tengah berdiskusi dengan pembicara dari perwakilan Sanggarpuan dan Hopehelps Unud

Peserta yang turut menyumbang aspirasinya terkait gerakan feminisme salah satunya Gita selaku mahasiswa Unud yang hatinya terketuk untuk mengikuti diskusi terbuka yang juga ingin mengetahui seluk beluk sejarah Gerakan Perempuan di Indonesia. Mahasiswi asal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini mengaku mendapatkan banyak hal yang belum pernah ia ketahui, mulai dari penanganan terhadap teman-teman yang mengalami pelecehan seksual, penanganan yang dilakukan baik secara hukum maupun melalui Sanggarpuan dalam memfasilitasi cara menangani korban pelecehan itu sendiri. Saat diskusi berlangsung pun banyak keresahan yang ia rasakan dengan apa yang disampaikan salah satunya pelecehan seksual, apalagi hal ini sudah terjadi di Universitas yang semestinya hal tersebut menjadi PR bersama dalam memperbaiki hak-hak perempuan. “Semoga untuk perempuan tak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia bisa lebih sejahtera, haknya lebih didengar, didengar dari segala penjuru kehidupan baik itu hukum, pendidikan, maupun ekonomi karena perempuan itu bagian dari kita bersama juga. Selamat Hari Perempuan Internasional,” ungkapnya saat ditanya harapan kedepannya setelah diskusi publik terlaksana.

Diskusi publik yang diikuti oleh sekitar 100 peserta bukanlah sebuah titik akhir, tetapi merupakan sebuah gerbang awal dalam mengawal Gerakan Feminisme di Udayana. Kedepannya diskusi publik seperti ini dicanangkan akan dibuat  kembali. Harapannya kedepan dengan diskusi ini, Udayana bisa membuka ruang diskusi seluas-luasnya dan membersamai pembentukan lingkungan yang sehat dan setara bagi semua orang. Bagus Padmanegara selaku Ketua BEM PM menyampaikan bahwa ia percaya dengan dibukanya diskusi-diskusi kecil seperti ini dapat membuka gerakan yang lebih masif lagi serta di Udayana sendiri kesetaraan gender dan hak-hak perempuan dapat terpenuhi secara maksimal.

 

Penulis : Manogar, Zarya

Penyunting : Dyana, Wida

You May Also Like