Menguntai Harap Eksistensi Tenun Endek Klungkung

Melintas Waktu, eksistensi Tenun Endek Klungkung selama ini merencah berbagai tantangan zaman, seperti surutnya penerus, merebaknya pandemi covid 19, serta gempuran  kain endek printing dari luar Bali yang  dibanderol jauh lebih terjangkau  perlahan meredupkan pamor Tenun Endek Klungkung. Kendati demikian, I Nyoman Darma, pemilik Tenun Astika, bersama para pengerajin tenun ikatnya pantang surut menjaga nyala eksistensi Tenun Endek Klungkung 

 

Tenun Endek Klungkung merupakan salah satu produk kebudayaan hasil peradaban Kerajaan Klungkung sebagai pusat kerajaan di Bali masa lalu. Menengok perjalanan historisnya, dilansir dari warisanbudaya.kemendikbud.go.id., eksistensi kain endek sendiri mulai berkembang pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel,  Klungkung. Setelah kemerdekaan, eksistensi Tenun Endek semakin berkembang di desa-desa seputaran Klungkung, salah satunya di Desa Sulang pada tahun 1975. Hal demikian kemudian membawa Tim Konvergensi Jelajah Jurnalistik 2023 untuk menelisik lebih lanjut ke salah satu kediaman pengusaha Tenun Endek di Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. 

Mencari Peruntungan Merintis Usaha Tenun

Langit cerah dengan sedikit awan putih menyertai perjalanan Tim Konvergensi Jelajah Jurnalistik 2023 ketika menyambangi kediaman I Nyoman Darma, pemilik usaha Tenun Astika pagi itu pada Kamis (13/07). Membuka kisahnya, Pria yang karib dipanggil Mangku Darma ini mengungkapkan bahwa ia memulai karirnya sebagai buruh tukang kayu dan pembuat alat tenun. Awalnya tidak sempat terlintas di benaknya bahwa ia akan menjadi pengusaha kain Tenun Endek. 

“Kurang lebih sekitar tahun 1990 sekian lah, sudah 30 tahunan tiang yang merintis tapi tiang sebenarnya kan bukannya pengrajin Tenun, tiang hanya orang yang membuat alatnya yang untuk dipakai nenun. Tiang  sampai sekarang masih membuat alat, banyak yang mesen. Tapi setelah Nika tiang bekerja di perusahaan tenun. Setelah tiang bekerja di sana kurang lebih 3 tahunan, nika iseng-iseng lah kita pulang ke rumah dan di rumah dulu jual tenun, alat tenun, satu demi satu dah istri, anak saya sampai berkembang sampai sekarang. Kalau dalam pemikiran dulu, endak ada cita-cita punya usaha Tenun, karena ndak ada modal kan, tiang adalah seorang buruh tukang kayu dulu.” kenang I Wayan Darma ketika menceritakan kisah dibalik usaha tenunnya. Oleh karena itu, berbekal kepiawaiannya membuat alat Tenun dan pengetahuannya ketika bekerja di perusahaan Tenun, Nyoman Darma lantas mulai merintis usaha Tenunnya sendiri. 

Menyambung kisahnya, beliau mengungkapkan bahwa di tahun-tahun awal usahanya berdiri, ada begitu banyak warga yang tertarik untuk belajar menenun, bahkan tak sedikit siswa SD, SMP maupun SMA yang kala itu mendatangi kediamannya untuk membantu dan mencari pemasukan untuk sekedar menambah uang saku. 

Lumpuh Tertimpa Pandemi

Menoleh ke beberapa tahun belakang, keberadaan Kain Tenun Endek Klungkung yang selalu digandrungi berbagai kalangan masyarakat mulai meredup bahkan menghadapi titik terbawahnya akibat Pandemi Covid 19 yang menerpa. Usaha Tenun Endek Astika juga memperoleh imbasnya, bagai berada diujung tanduk, Tenun Astika perlahan kehilangan langganan tetapnya, pada akhirnya dengan paksa keputusan merumahkan para karyawannya tak dapat lagi terelakan. “Sebelum covid itu sampai 100 sekian dulu ya, kalau sekarang kan masih 40an. Ya karena Covid yang menjadi kendala dulu, karena kita tidak dapat jual kain dan sebagainya. Makanya karyawan kita, kita rumahkan. Setelah sekarang, ada agak mendingan lah.” ungkap Nyoman Darma.  Tidak berakhir disitu, setumpuk debu yang meninggalkan jejak pada berbagai alat tenun yang terbengkalai selama beberapa tahun dan akhirnya rusak termakan usia, turut menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi usaha milik Nyoman Darma. “Alat yang sudah didiamkan beberapa tahun itu kan sudah nggak bisa dipakai. Alat itu kan mahal juga, untuk modal itu satu saja sekarang lima juta sekian per satu unit itu.” lanjutnya. 

Perluasan usaha Tenun Astika ke luar kota juga turut terhenti semenjak datangnya Pandemi. Pria yang juga ngayah sebagai pemangku itu menceritakan, bilamana sebelum Covid dulu, Tenun Astika memiliki usaha di Gianyar, tepatnya di desa Pacung dan Keramas, dimana ia bergabung dengan teman-teman pengusaha tenun di Gianyar sejak tahun 1990 an. “Sampai baru ini, sampai Covid tiang berhenti karena nggak bisa melanjutkan penjualan masalahnya, makanya tiang putus sampai di sana.” jelasnya dengan pasrah.

Gempuran Kain dari Luar Bali  

Dibalik terpaan Pandemi, gempuran kain-kain dari luar Bali juga menambah jalan panjang yang dilalui kain Tenun Endek Klungkung tuk senantiasa menjaga nyala eksistensinya. Senada dengan itu, Nyoman Darma mengaku datangnya kain dari luar Bali memang sangat mempengaruhi eksistensi Tenun Endek Klungkung, begitu pula dengan usaha Tenun miliknya. 

Berkurangnya jumlah pengusaha dan pengerajin Tenun di Klungkung menjadi salah satu imbas hadirnya Kain dari Luar Bali di pasaran. “Sebenarnya sekarang kita terus terang saja, Pengusaha bali di Klungkung kebanyakan ya di Sampalan atau Sulang dan sekitarnya, mungkin 100 lebih dulu ada pengusaha tenun teman-teman, sekarang masih beberapa sih semenjak ada kain Jepara, kain Jawa Tengah yang masuk ke Bali, kain Endek lain, masuknya ke pasar Endek. Makanya kita agak ya, agak agak susah lah, bagaimana pemasaran, kita kan tidak tahu bagaimana cara dia bekerja, bagaimana benangnya, benang yang dipakai apa, pokoknya dia dapat mengeluarkan lebih murah dari kita.” ucapnya

Oleh karena itu, beliau bahkan tidak berani menaikkan harga jual Tenunnya dan berusaha bertahan dengan rentang harga sekitar Rp 200.000,00.- untuk Tenun Endek biasa hingga Rp 500.000,00.- untuk Tenun Endek sutranya, agar para pembeli tidak berpaling ke kain luar Bali yang dibanderol setara bahkan relatif lebih murah. Hal demikian juga yang menjadi faktor mengapa beliau tidak bisa menaikkan upah karyawannya. “Tapi, yang menjadi faktor utama kan jual mahal nggak bisa, karena ada saingan kain Jawa, makanya kita tidak dapat membayar upah yang maksimal kan. Kalau Upah tenun kan masih jauh. Tiang terus terang pada pengrajin, upahnya itu tidak memadai. Ya ada yang 50.000 ada yang 55.000 per hari. Itu kan kalau dibandingkan dengan kepayahan orang, kan tidak sebanding, kalau kita bayar upah lebih bagaimana menjual, kita tidak bisa, mahal. Kalau nggak ada kain jawa seperti dulu, nggak ada kain jawa sebelum tahun 2000 an apa, kita dapat menyesuaikan dengan upah.” sambungnya dengan lugas. 

Uluran Tangan Pemerintah Dipertanyakan

Semenjak Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penggunaan Kain Tenun Endek Bali/kain Tenun Tradisional Bali dihadirkan di tengah-tengah masyarakat Bali, sejumlah pengusaha dan pengerajin Tenun Endek dapat menghela nafas lega sejenak, termasuk Nyoman Darma, ia bersyukur dan berterimakasih karena dengan adanya surat edaran dari Pak Gubernur yang menghimbau pegawai negeri, swasta maupun organisasi kemasyarakatan Bali untuk memakai kain Endek itu, ia dapat berjualan ya sesuai dengan harapan. “Biasanya kalau kita punya kain itu sampai ngumpul itu, lama kan gitu. Paling-paling, sekarang kita potong, ya besok, satu bulan sudah habis lagi. Itu saja, kalau sebelum itu ada enggak ada yang beli kain kita.” papar pemilik Usaha Tenun Astika itu.

Kendati demikian, bak belati bermata dua, permintaan kain Tenun Endek yang datang dari instansi pemerintahan mayoritasnya adalah kain Tenun Endek dengan motif dan warna yang sama dalam jumlah besar. Mengingat proses pembuatan Tenun Endek yang masih tradisional sehingga memerlukan proses yang relatif lama dengan SDM yang terbatas, menimbulkan kesenjangan baru antara permintaan dan penawaran. Pada akhirnya beberapa pesanan akhirnya ditolak karena pengusaha tidak sanggup untuk memenuhinya. 

Seperti halnya yang dialami I Nyoman Darma, “Cuma itu kalau ada pesanan tiang kalah dengan pesanan itu karena orang mencari kain yang sama gitu. Itu yang menjadi kendala paling besar, nggak ada lagi. karena kita pengusaha kecil, bagaimana kita buatkan kain orang minta kain 500 potong? Kalau kita sampai buat 500 potong kan lama sekali, lama sekali. Sedangkan teman-teman, yang kita punya itu ada warnanya, ada merah, kuning, hijau atau biru, kalau mentok pesan yang sama 500 atau 200 kan enggak bisa jalan dia. Nah ingin menghidupkan pengusaha-pengusaha Bali, seharusnya instansi-instansi ini tidak harus kain yang sama. Seperti Bahasa Klungkung, kain serombotan, kalau memang pegawai negeri yang mau pakai kain yang serombotan itulah ada yang kuning merah hijau itu, kan tidak kewalahan kita sebagai pengusaha Bali karena kita pengusaha sekarang masih sedikit, paling paling tiang kalau nggak bisa mengerjakan ya tiang tidak kerjakan, maaf bapak ya begitu saja.” cerita pria berkulit sawo matang itu.

Meneruskan ceritanya, beliau berkaca pada kenyataan dan mengatakan bahwa bagaimana pengusaha-pengusaha kecil seperti dirinya dapat menjangkau maupun memenuhi permintaan yang demikian, sehingga tak dapat disalahkan bilamana pembeli memilih membeli kain dari luar, sebab mereka bisa memenuhi permintaan demikian. “Kita hanya berharap saja, tapi harapan kita apakah bisa terwujud kan gitu? Terserah bapak-bapak (kepada pemerintah -red), titiang hanya berusaha, apa yang tiang lakukan di rumah buat hanya berusaha berjuang jual saja. Itu saja.” ungkapnya dengan pasrah.

Selepas itu, beliau membawa Tim Konvergensi Jelajah Jurnalistik 2023 untuk turut berkeliling dan melihat proses pembuatan Tenun Endeknya, beberapa karyawan I Nyoman Darma tampak sedang menyelesaikan kain tenun yang tengah dibuat. Mereka tersenyum sambil menjelaskan pada kami berbagai proses terbentuknya ulinan benang tersebut menjadi selembar kain endek. Beliau juga mengajak kami ke gudang tempat penyimpanan benang serta beberapa kain yang sudah rampung. Terdapat begitu banyak gulungan benang metris dan sutra, salah dua dari benang yang digunakan I Nyoman Darma sebagai bahan utama pembuatan Kain Endek miliknya.  Pengusaha tenun itu juga menuturkan bahwa bangunan yang berada di atas gudang yang adalah tempat berjualan kain dahulunya. “Kalau ini (menunjuk ke atas -red) tempat jualan kain dulu, tapi sekarang kainnya nggak ada, kosong di sana. Makanya kita taruh di sini sedikit aja kalau penuh sini tempat sekarang kainnya nggak ada makanya kita bawa di sini.” Tutur beliau sambil menunjuk ke atas, sembari bernostalgia mengingat masa-masa kejayaannya dahulu. 

Meski telah melewati sejumlah kesulitan dan tantangan, I Nyoman Darma senantiasa teguh dalam menjaga nyala dan membangkitkan eksistensi Tenun Endek Klungkung melalui Usaha Tenun Astika miliknya. Guna menghidupi keluarganya, sekaligus menghidupkan Kain Tenun Endek, beliau tetap berusaha mempertahankan usaha yang telah  dirintis lebih dari tiga puluh tahun itu. Ia memilih mempertahankan serta terus memperjuangkan Kain Tenun Endek dengan menguntai harap agar kain khas Bali tersebut kembali memperlihatkan eksistensinya di tanah sendiri. 

Akhir kata, beliau mengungkapkan sependar harapannya sebagai salah satu pengusaha Tenun Endek Klungkung. “Itu makanya, kalau mungkin besok-besok ya bagaimana caranya pemerintah melarang sekarang, mengekang tidak boleh kain jawa. Itu kan sulit sekali kecuali ada Peraturan lain. Mungkin, ada nggak ada kain Jepara, kain jawa ke Bali, mungkin kita bisa meningkatkan penjualan dan kesejahteraan Pengrajin juga bisa. 

 

 

 

 

Penulis: Santika, Ogar

Editor: Mey

You May Also Like